Monday, January 3, 2022

Da'wah Kepada Syahadat "Laa Ilaha Illallah

 *>> PELAJARAN AQIDAH & TAUHID*


https://t.me/menebar_cahayasunnah

```TERJEMAH KITAB TAUHID```

Oleh: Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi

Da'wah Kepada Syahadat "Laa Ilaha Illallah

Firman Allah,

"Katakanlah, 'Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik'." (Yusuf: 108)

Ibnu Abbas menuturkan bahwa rasulullah tatkala mengutus Mu'adz ke Yaman, bersabdalah beliau kepadanya,

"Sungguh, kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah pertama kali da'wah yang kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat 'La ilaha illallah' -dalam riwayat lain disebutkan 'Supaya mereka mentauhidkan Allah' - Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu da'wahkan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. 

Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan

kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan jagalah dirimu dari do'a orang mazhlum (yang teraniaya), karena sesungguhnya tiada suatu tabir penghalang pun antara doanya dan Allah." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Sahl bin Sa'ad bahwa rasulullah semasa perang Khaibar bersabda,

"Demi Allah, niscaya akan kuserahkan bendera (komando perang) itu besok hari kepada orang yang mencintai Allah serta rasul-Nya dan

dia dicintai Allah serta rasul-Nya; semoga Allah menganugerahkan kemenangan melalui tangannya." Maka semalam suntuk orang-orang memperbincangkan siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera tersebut itu. 

Pagi harinya, mereka mendatangi rasulullah, masing-masing berharap untuk diserahi bendera tersebut.

 Lalu bersabdalah beliau,

"Di mana 'Ali bin Abu Thalib?" Dijawab, "Dia sakit kedua belah matanya." Mereka pun mengutus seorang utusan kepadanya dan didatangkanlah dia. Lantas Nabi meludah kepada kedua belah

matanya dan berdo'a untuknya, seketika itu dia sembuh seakan- akan tidak pernah terkena penyakit. Lalu rasulullah menyerahkan

kepadanya bendera dan bersabda,

"Melangkahlah ke depan dengan tenang sampai kamu tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak Allah Ta'ala dalam Islam yang wajib mereka laksanakan. Demi Allah, bila Allah memberi petunjuk satu orang lewat dirimu, benar-benar (hal itu) lebih baik (berharga) bagimu dari pada unta-unta merah."

Kandungan Bab Ini :

1. Da'wah kepada syahadat "La ilaha illallah" adalah pandangan hidup bagi orang-orang yang mengikuti rasulullah

2. Diingatkan dalam bab ini supaya ikhlas [dalam berda'wah] semata-mata

karena Allah], karena kebanyakan orang kalau mengajak kepada kebenaran

justru ia mengajak kepada [kepentingan] dirinya sendiri

3. Mengerti betul dan yakin akan apa yang dida'wahkan adalah termasuk kewajiban

4. Termasuk bukti kebaikan tauhid, bahwa tauhid adalah mengagungkan Allah

5. Dan di antara keburukan syirik, bahwa syirik adalah merendahkan Allah

6. Termasuk masalah yang sangat penting, bahwa seorang muslim perlu dijauhkan dari lingkungan orang-orang yang berbuat syirik, supaya nanti tidak menjadi seperti mereka, sekalipun dia belum melakukan syirik

7. Tauhid adalah kewajiban pertama

8. Tauhid adalah yang pertama kali harus dida'wahkan sebelum semua

kewajiban yang lain, termasuk kewajiban shalat

9. Pengertian "Supaya mereka mentauhidkan Allah" adalah pengertian syahadat

10. Seorang bisa jadi termasuk Ahlul Kitab, akan tetapi dia tidak tahu pengertian "La ilaha illallah" yang sebenarnya; atau mengetahuinya tetapi tidak mengamalkannya

11. Perlu diperhatikan metode pengajaran secara bertahap

12. Yaitu dimulai dari masalah yang paling penting, kemudian penting dan begitu seterusnya

13. Salah satu sasaran pembagian zakat adalah orang-orang fakir

14. Orang yang berilmu supaya menjelaskan sesuatu yang masih diragukan oleh orang yang sedang belajar

15. Berkenaan dengan zakat, dilarang untuk mengambil harta pilihan (termahal harganya)

16. Supaya menjaga diri dari tindakan zhalim terhadap seseorang

17. Diberitahukan oleh rasulullah bahwa do'a orang yang mazhlum (teraniaya) dikabulkan Allah

18. Di antara bukti-bukti tauhid adalah hal-hal yang dialami oleh rasulullah dan para sahabat seperti kesulitan, kelaparan dan wabah penyakit

19. Sabda rasulullah, "Demi Allah, niscaya akan kuserahkan bendera (komando

perang) ini ..." dan seterusnya adalah salah satu tanda-tanda kenabian beliau

20. Sembuhnya kedua belah mata 'Ali bin Abi Thalib setelah diludahi oleh rasulullah, termasuk pula dari tanda kenabian beliau

21. Keutamaan 'Ali

22. Keistimewaan para sahabat, [karena hasrat mereka yang besar sekali dalam kebaikan dan sikap mereka yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shalih]. Ini dapat dilihat pada perbincangan mereka di malam [menjelang perang Khaibar, tentang siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera komando perang, masing-masing mereka menginginkan agar dirinyalah yang menjadi orang yang memperoleh kehormatan itu.]

23. Iman kepada qadar, karena bendera komando tersebut tidak diserahkan kepada orang yang sudah berusaha, malah diserahkan kepada orang yang tidak berusaha untuk memperolehnya

24. Etika di dalam jihad, sebagaimana terkandung dalam sabda rasulullah,

"Melangkahlah ke depan dengan tenang ..."

25. Disyariatkan untuk berda'wah (mengajak) kepada Islam, sebelum perang

26. Syariat ini berlaku pula terhadap mereka yang sudah pernah dida'wahi dan diperangi sebelumnya

27. Da'wah dengan cara yang bijaksana, sebagaimana diisyaratkan dalam sabda beliau, "... dan sampaikanlah mereka hak Allah Ta'ala dalam Islam yang wajib mereka laksanakan."

28. Mengetahui hak Allah dalam Islam 

29. Kemuliaan da'wah dan pahala bagi seorang da'i yang bisa memasukkan satu orang saja ke dalam Islam

30. Boleh bersumpah di dalam menyampaikan petunjuk.

Musibah Wanita dengan Parfum Saat Keluar Rumah


By Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 

Laki-laki mana pun pasti tergoda ketika melihat wanita lewat di hadapannya dan sudah jauh 50 meter masih tercium wewangiannya. Kebiasaan wanita yang keluar rumah dengan wewangian seperti ini amatlah berbahaya. Karena penampilan semacam ini dapat menggoda para pria, sewaktu-waktu pun mereka bisa menakali si wanita. Namun banyak wanita muslimah yang tidak menyadari hal ini meskipun mereka berjilbab yang sesuai perintah.

Padahal sudah jauh-jauh hari, hal yang menimbulkan fitnah semacam ini dilarang. Kecantian dan kewangian wanita hanya khusus untuk suami mereka di rumah.

Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i no. 5129, Abu Daud no. 4173, Tirmidzi no. 2786 dan Ahmad 4: 414. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Sanad hadits ini hasan kata Al Hafizh Abu Thohir)

Dari Yahya bin Ja’dah, “Di masa pemerintahan Umar bin Khatab ada seorang perempuan yang keluar rumah dengan memakai wewangian. Di tengah jalan, Umar mencium bau harum dari perempuan tersebut maka Umar pun memukulinya dengan tongkat. Setelah itu beliau berkata,

تخرجن متطيبات فيجد الرجال ريحكن وإنما قلوب الرجال عند أنوفهم اخرجن تفلات

“Kalian, para perempuan keluar rumah dengan memakai wewangian sehingga para laki-laki mencium bau harum kalian?! Sesungguhnya hati laki-laki itu ditentukan oleh bau yang dicium oleh hidungnya. Keluarlah kalian dari rumah dengan tidak memakai wewangian”. (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushonnaf no. 8107)

Dari Ibrahim, Umar (bin Khatab) memeriksa shaf shalat jamaah perempuan lalu beliau mencium bau harum dari kepala seorang perempuan. Beliau lantas berkata,

لو أعلم أيتكن هي لفعلت ولفعلت لتطيب إحداكن لزوجها فإذا خرجت لبست أطمار وليدتها

“Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian. Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)”. (HR. Abdur Razaq no 8118)

Syaikh Abu Malik berkata bahwa sebab wanita mengenakan wewangian itu sangat jelas karena dapat membangkitkan syahwat para pria yang mencium baunya. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 3: 35.

Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, “Dianalogikan dengan minyak wangi (yang terlarang dipakai oleh muslimah ketika hendak keluar rumah) segala hal yang semisal dengan minyak wangi (sabun wangi dan lain-lain, pent.) karena penyebab dilarangnya wanita memakai minyak wangi adalah adanya sesuatu yang menggerakkan dan membangkitkan syahwat.” (Fathul Bari, 2: 349)

Al Haitsami dalam Az Zawajir (2: 37) berkata bahwa keluarnya wanita dari rumahnya dengan mengenakan wewangian sambil berhias diri termasuk dosa besar, meskipun suami mengizinkannya berpenampilan seperti itu.

Itulah larangan ketika keluar rumah bagi wanita. Sedangkan di dalam rumahnya, di hadapan suaminya terutama, berbau wangi malah dianjurkan. Karena setiap wanita yang menyenangkan hati suami dipuji dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Berbeda halnya jika istri senangnya berbau kecut dan membuat suami tidak betah di rumah. Namun para wanita saat ini berpenampilan sebaliknya. Ketika di luar rumah, mereka berpenampilan ‘waah’. Di dalam rumah, berpenampilan seperti tentara, berbau kecut atau berbau asap. Sungguh jauh dari wanita yang terpuji.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya oleh seorang wanita:

Bolehkah aku shalat dalam keadaan memakai parfum? Jazakumullah khoiron.

Jawaban Syaikh rahimahullah:

Na’am. Shalat dalam keadaan memakai parfum itu dibolehkan, bahkan dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang beriman. Akan tetapi wanita hanya boleh menggunakan parfum ketika berada di rumah di sisi suaminya. Dan tidak boleh seorang wanita menggunakan parfum ketika ia keluar ke pasar atau ke masjid. Adapun bagi laki-laki, ia dibolehkan untuk mengenakan parfum ketika berada di rumah, ketika ke pasar, atau ke masjid. Bahkan mengenakan parfum bagi pria termasuk sunnah para Rasul.

Apabila seorang wanita shalat di rumahnya dalam keadaan memakai berbagai wangian …. , maka itu baik. Seperti itu tidaklah mengapa bahkan dianjurkan mengenakannya. Akan tetapi, ketika wanita tersebut keluar rumah, maka ia tidak boleh keluar dalam keadaan mengenakan parfum yang orang-orang dapat mencium baunya. Janganlah seorang wanita keluar ke pasar atau ke masjid dalam keadaan mengenakan parfum semacam itu. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya.

[Fatawa Nur ‘alad Darb, 7/291, cetakan Ar Riasah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Riyadh-KSA, cetakan pertama, thn 1429 H]

Moga Allah memberikan hidayah pada setiap wanita untuk memberikan kecantikan dan penampilan istimewa mereka, hanya untuk suami mereka. Moga Allah beri taufik untuk taat pada ajaran Islam.

Menjelang waktu Zhuhur @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 7 Jumadal Akhiroh 1434 H

https://rumaysho.com/3309-musibah-wanita-dengan-parfum-saat-keluar-rumah.html


Sunday, January 2, 2022

Pelajaran Aqidah dan Tauhid


TERJEMAH KITAB TAUHID

https://t.me/menebar_cahayasunnah

Oleh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi

HALAQAH 4

*4. Takut Kepada Syirik*

Firman Allah,

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (An-Nisa': 48, 116)

"... dan jauhkanlah aku serta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." (Ibrahim: 35)

Diriwayatkan dalam suatu hadits, rasulullah bersabda,

"Sesuatu yang paling aku khawatirkan kepada kamu sekalian adalah

perbuatan syirik kecil." Ketika ditanya tentang maksudnya, beliau

menjawab, "Yaitu riya'."

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa rasulullah bersabda,

"Barangsiapa mati dalam keadaan menyembah sesembahan selain

Allah, masuklah ia ke dalam Neraka." (Hadits riwayat Al-

Bukhari)

Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa rasulullah bersabda,

"Barangsiapa menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat

syirik kepada-Nya sedikit pun, pasti masuk Surga; tetapi barangsiapa

menemu-Nya (mati) dalam keadaan berbuat sesuatu syirik kepada-

Nya, pasti masuk Neraka."

*Kandungan Bab Ini*

1. Syirik adalah perbuatan dosa yang harus ditakuti dan dijauhi

2. Riya' termasuk perbuatan syirik

3. Riya' termasuk syirik ashgar (kecil)

4. Syirik ashghar ini adalah perbuatan dosa yang paling dikhawatirkan oleh

rasulullah terhadap para sahabat padahal mereka itu adalah orang-orang

shalih

5. Surga dan Neraka adalah dekat

6. Dekatnya Surga dan Neraka telah sama-sama disebutkan dalam satu hadits

7. Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada Allah

sedikitpun pasti masuk Surga. Tetapi barangsiapa mati dalam keadaan

berbuat syirik kepada-Nya, pasti masuk Neraka, sekalipun dia termasuk orang yang paling banyak ibadahnya

8. Masalah penting, yaitu bahwa Nabi Ibrahim memohonkan kepada Allah

untuk diri dan anak cucunya supaya dijauhkan dari perbuatan menyembah

berhala

9. Nabi Ibrahim mengambil pelajaran dari keadaan sebagian besar manusia,

yaitu bahwa mereka itu adalah sebagaimana kata beliau,

"Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan

kebanyakan daripada manusia ..." (Ibrahim: 36)

10. Bab ini mengandung tafsiran kalimat "La ilaha illallah", sebagaimana

dalam hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhari, [yaitu: pembersihan diri dari

syirik dan pemurnian ibadah kepada Allah]

11. Keutamaan orang yang dirinya bersih dari syirik