Friday, June 10, 2022

TUGAS RASUL ADALAH MEMBERI PERINGATAN

QS. Al Hajj Ayat 49-57

49 Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu." 50 Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia. 51 Dan orang-orang yang berusaha dengan maksud menentang ayat-ayat Kami dengan melemahkan (kemauan untuk beriman); mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka. 52 Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, 53 agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, 54 dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. 55 Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap al-Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat. 56 Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan. 57 Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka bagi mereka azab yang menghinakan.


Sumber : https://id.wikisource.org/wiki/Al-Qur%27an/Al-Hajj

AYAT-AYAT ALLAH SEBAGAI PENAWAR HATI NABI MUHAMMAD

QS. Al Hajj Ayat 42-48

42 Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh, Ad dan Tsamud. 43 dan kaum Ibrahim dan kaum Luth, 44 dan penduduk Madyan, dan telah didustakan Musa, lalu Aku tangguhkan (azab-Ku) untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka (lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku (kepada mereka itu). 45 Berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan lalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi, 46 maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. 47 Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. 48 Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat lalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Ku lah kembalinya (segala sesuatu).


Sumber : https://id.wikisource.org/wiki/Al-Qur%27an/Al-Hajj

IZIN BERPERANG BAGI ORANG-ORANG MUKMIN


QS Al Hajj Ayat 38-41

38 Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. 39 Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. 40 (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. 41 (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. 

Sumber : https://id.wikisource.org/wiki/Al-Qur%27an/Al-Hajj

HAJI, MANASIKNYA DAN SYI'ARNYA

QS. Al Hajj Ayat 26-37

26 Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. 27 Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, 28 supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. 29 Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). 30 Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. 31 dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. 32 Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. 33 Bagi kamu pada binatang-binatang hadyu, itu ada beberapa manfaat, sampai kepada waktu yang ditentukan, kemudian tempat wajib (serta akhir masa) menyembelihnya ialah setelah sampai ke Baitul Atiq (Baitullah). 34 Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), 35 (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. 36 Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. 37 Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.


Sumber : https://id.wikisource.org/wiki/Al-Qur%27an/Al-Hajj

KEHIDUPAN DI HARI KEMUDIAN

QS. Al Hajj Ayat 1-25

Kedahsyatan hari kiamat Ayat 1-2

1 Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). 2 (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.

Celaan terhadap orang-orang yang membantah Tuhan Ayat 3-4

3 Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat, 4 yang telah ditetapkan terhadap setan itu, bahwa barang siapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.

Proses kejadian manusia dan tumbuh-tumbuhan, adalah bukti yang nyata tentang kebenaran hari berbangkit Ayat 5-7

5 Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. 6 Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala suatu, 7 dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur

Celaan terhadap orang yang membantah Tuhan karena kesombongan dan untuk menyesatkan orang lain Ayat 8-10

8 Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, 9 dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar. 10 (Akan dikatakan kepadanya), "Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya."

Celaan terhadap orang-orang yang tidak berpendirian Ayat 11-13

11 Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. 12 Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. 13 Ia menyeru sesuatu yang sebenarnya mudaratnya lebih dekat dari manfaatnya. Sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahat penolong dan sejahat-jahat kawan.

Balasan terhadap orang yang beriman dan beramal saleh Ayat 14

14 Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Pertolongan Allah SWT pasti datang Ayat 15-18

15 Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya. 16 Dan demikianlah Kami telah menurunkan al-Qur'an yang merupakan ayat-ayat yang nyata; dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. 17 Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabi'in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. 18 Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Keadaan orang-orang kafir di dalam neraka dan balasan terhadap orang-orang yang beriman Ayat 19-25

19 Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. 20 Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). 21 Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. 22 Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini." 23 Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. 24 Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. 25 Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara lalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.


Sumber : https://id.wikisource.org/wiki/Al-Qur%27an/Al-Hajj

ISTIQAMAHLAH DI KALA SENDIRIAN MAUPUN BERSAMA TEMAN !


Al Allamah asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya,

▪️Soal:

Aku mendapatkan keistiqomahan -Alhamdulillah- sejak kurang lebih satu bulan, dan aku merasakan kekokohan bila aku berkumpul bersama sebagian teman-teman yang shalih. Namun ketika aku berpisah dengan mereka karena sebab kesibukanku dan pekerjaanku, aku mendapati kekurangan/penurunan pada imanku, apa yang anda nasehatkan kepadaku?

▪️Jawab:

Kami wasiatkan kepadamu agar istiqomah dalam berteman dengan orang-orang baik, dan bila engkau berpisah dengan mereka karena sebab kesibukanmu maka bertaqwalah kepada Allah dan engkau selalu ingat bahwa Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa mengawasimu, dan pengawasan-NYA lebih besar dibanding teman-temanmu tersebut.

Allah berfirman,

{ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا }

"Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu". (An Nisa':1).

Dan Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman,

{ ٱلَّذِی یَرَىٰكَ حِینَ تَقُومُ (218)وَتَقَلُّبَكَ فِی ٱلسَّـٰجِدِینَ }

"Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk shalat),dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud"._ (Asy Syu'ara:218-219).

Dan Allah ta'ala juga berfirman,

{ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ  }

“Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (Surat At-Taubah:40).

Allah senantiasa mengawasimu, maka bertaqwalah kepada Allah. Dan engkau selalu ingat bahwa engkau berada di hadapan-NYA, dan bahwa Ia menyaksikanmu di atas ketaatan ataupun di atas kemaksiatan. Maka waspadalah terhadap hukuman Allah, waspadalah engkau untuk melakukan apa yang akan membuat-NYA murka.

Allah jalla wa 'ala berfirman,

{ وَیُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ  }

" Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya".

(Ali 'Imran:28).

Dan Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman,

{ وَإِیَّـٰیَ فَٱرۡهَبُونِ }

"dan takutlah kepada-Ku saja". (Al Baqarah:40).

Hendaklah engkau jujur kepada Allah, dan istiqomah di atas agama Allah baik saat engkau sendiri ataupun saat bersama teman-temanmu dan di semua tempat. Engkau senantiasa berada dalam pendengaran dan penglihatan Allah, Ia mendengar ucapanmu dan melihat perbuatanmu, maka hendaklah engkau malu kepada Allah melebihi rasa malumu terhadap keluargamu dan selain keluargamu.

🍃Sumber ||

https://binbaz.org.sa/fatwas/2339/%D9%86

س: استقمت بحمد الله على دين الله منذ شهر تقريبًا، وأشعر بالثبات إذا كنت مع بعض الإخوة الصالحين، وعندما أفارقهم بسبب انشغالي وأعمالي أجد نقصًا في الإيمان، بماذا تنصحوني؟

ج: نوصيك بالاستقامة على صحبة الأخيار، وإذا فارقتهم لبعض أشغالك فاتق الله وتذكر أنه سبحانه رقيب عليك وهو أعظم منهم، قال تعالى: إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [النساء: 1] وقال سبحانه: الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ [الشعراء: 218 - 219] وقال تعالى: لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا [التوبة: 40].

فالله مراقبك فاتق الله، وتذكر أنك بين يديه وأنه يراك على الطاعة والمعصية جميعًا، فاحذر عقاب الله، واحذر أن تعمل ما يغضبه سبحانه، وقال جل وعلا: وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ [آل عمران: 28] وقال سبحانه: وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ [البقرة: 40].

فعليك بالصدق مع الله، والاستقامة على دين الله سبحانه في خلوتك ومع أصحابك وفي كل مكان فأنت في مسمع من الله ومرأى، يسمع كلامك ويرى فعالك، فعليك أن تستحي من الله جل وعلا أعظم من حيائك من أهلك ومن غير أهلك[1].

📲 Ayo Join_Share_Save ||

📡 https://t.me/nasehatilmiah

Thursday, June 9, 2022

NABI PERNAH BERQURBAN SATU SAPI UNTUK SATU KELUARGA

SERI MUTIARA HADIT

Bimbingan Ikhwan Shalih~Bimbingan Mar'ah Shalihah

HADITS HADITS TENTANG QURBAN

NABI PERNAH BERQURBAN SATU SAPI UNTUK SATU KELUARGA

*HADITS JABIR BIN ABDULLOH*

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: "ذَبَحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَائِشَةَ بَقَرَةً يَوْمَ النَّحْرِ" 

Dari Jabir bin Abdillah, dia berkata: 

“Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih satu ekor sapi untuk ‘Aisyah pada hari raya qurban”.

(HR. Muslim, no. 1319/356)

Di dalam riwayat lain dengan lafazh:

"نَحَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنْ نِسَائِهِ" 

“Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih qurban satu ekor sapi, untuk istri-istrinya pada hajinya”.

(HR. Muslim, no. 1319/357)

HADITS ‘AISYAH

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحَرَ عَنْ آلِ مُحَمَّدٍ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ بَقَرَةً وَاحِدَةً" 

Dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih qurban satu ekor sapi, untuk keluarganya pada haji wada’”.

(HR. Abu Dawud, no. 1750; Ibnu Hibban, no. 3135. 

Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohih Sunan Abu Dawud)

FAWAID HADITS:

Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits-hadits ini, antara lain:

1- Syari’at menyembelih qurban dari hewan ternak, yaitu onta, atau sapi, atau domba, atau kambing. (Lihat: QS. Al Hajj/22: 34) Dan tidak boleh menyembelih qurban dari hewan selainnya, seperti ayam, kelinci, burung, dan lainnya.

2- Menyembelih satu ekor sapi mencukupi sebagai qurban bagi seseorang dan keluarganya. Yaitu anggota keluarganya yang dia tanggung nafkahnya.

3- Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban dengan menyembelih satu ekor sapi untuk istri-istrinya pada hari raya qurban pada haji wada’ tahun 10 Hijriyah.

4- Berqurban sapi boleh sendirian untuk satu keluarga, dan boleh dengan rombongan maksimal tujuh orang.

5- Di antara metode memahami hadits adalah mengumpulkan hadits-hadits dalam satu bab, kemudian diperhatikan, karena hadits itu saling melengkapi dan saling menjelaskan satu sama lain. 

Sebagaimana hadits-hadits di atas, sebagian hadits meriwayatkan   Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban untuk ‘Aisyah, di dalam riwayat lain untuk istri-istrinya. Dan tidak ada kontradiksi di dalam hadits-hadits itu, sebab ‘Aisyah termasuk istri-istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

6- Berqurban dilakukan oleh muqim (orang yang berada di kotanya sendiri) dan oleh musafir (orang yang melakuka perjalanan di luar kota).

7- Setelah hijrah ke Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan haji sekali, yaitu pada tahun 10 Hijriyah, dan dikenal dengan haji wada’ (haji pamitan), sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpamitan kepada umatnya. Beliau bersabda: “Ketahuilah, kemungkinan kamu tidak akan melihat-ku lagi setelah tahun kamu ini!” (HR. Ahmad, no. 22260. Dishohihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits-hadits yang agung ini. 

Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. 

Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju sorga-Nya yang penuh kebaikan. 

Ditulis oleh Muslim Atsari, 

Sragen, Ahad, Dhuha, 06-Dzulqo’dah-1443 H / 05-Juni-2022

📢 *Published By:*

🌐 Group BIS & BMS - Dakwah Untuk Umat 💐

══════ ❁❁ ══════

BERSIAPLAH DENGAN AMAL SHALIH SELAGI DI DUNIA


Berkata Abu Darda radhiyallahu anhu:

"Shalatlah kalian pada kegelapan malam (sebagai persiapan) untuk menghadapi kegelapan alam kubur, berpuasalah pada hari yang sangat panas (sebagai persiapan) untuk menghadapi panasnya hari berkumpul, dan bersedekahlah (sebagai persiapan) untuk menghadapi keburukan pada hari yang penuh kesulitan."

Lathaiful Ma'arif hal 313

Faedah harian

Khotbah Jumat || Tiga Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Yusuf

Khotbah Pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.

Mengawali khotbah kali ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan juga para jemaah sekalian agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Baik itu dengan menjalankan seluruh ketaatan yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita, maupun meninggalkan seluruh larangan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Saudaraku seiman, jemaah salat jumat yang dirahmati

Allah Ta’ala. Ketahuilah, bahwa di dalam kisah-kisah orang terdahulu pasti terdapat sebuah pelajaran dan di setiap kabar mengenai mereka yang hidup di masa lampau pasti memiliki nasehat yang bisa kita petik.

Oleh karenanya, Al-Quran memiliki porsi khusus yang mengandung kisah umat-umat terdahulu, kisah-kisah tentang para nabi terdahulu. Allah Ta’ala  berfirman,

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu. Dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)

Di ayat yang lain, Allah Ta’ala mengatakan,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ

“Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya Engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 3)

Kisah-kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an sejatinya adalah media pembelajaran yang akan menguatkan pikiran serta meluruskan akhlak. Pada hari yang diberkahi ini, kita akan bersama-sama sejenak menyelami dan menyimak kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, kisah yang indah, enak didengar, dan mudah dicerna bagi mereka yang memiliki hati yang lurus. Sungguh ia merupakan kisah yang sarat akan pelajaran berharga. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِيْ يُوْسُفَ وَاِخْوَتِهٖٓ اٰيٰتٌ لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ

“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.” (QS. Yusuf: 7)

Ma’asyiral Muslimin, jemaah masjid yang dimuliakan Allah.

Sesungguhnya hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Yusuf ‘alaihis salam sangatlah banyak, sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk membahasnya. Namun, pada kesempatan ini kita hanya akan mengambil 3 pelajaran saja.

Pelajaran pertama: Kehidupan ini Allah ciptakan penuh dengan rasa gundah gulana, lelah, dan kesedihan.

Tidak ada kenikmatan dan ketenangan hidup yang abadi, karena keadaan sangatlah cepat berganti dan akan berubah terus menerus. Apa yang menimpa nabi Yusuf ‘alaihis salam bukanlah perkara yang mudah dan remeh. Beliau menghadapi permusuhan saudara-saudaranya, kerasnya mereka, dan tipu daya mereka. Sampai-sampai ia dijual kemudian dibeli dengan harga yang rendah. Allah Ta’ala berfirman,

وَجَاۤءَتْ سَيَّارَةٌ فَاَرْسَلُوْا وَارِدَهُمْ فَاَدْلٰى دَلْوَهٗ ۗقَالَ يٰبُشْرٰى هٰذَا غُلٰمٌ ۗوَاَسَرُّوْهُ بِضَاعَةً ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَعْمَلُوْنَ  * وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ الزَّاهِدِيْنَ ࣖ

“Dan datanglah sekelompok musafir, mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, ‘Oh, senangnya, ini ada seorang anak muda!’ Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.” (QS. Yusuf: 19-20)

Sungguh, jika kita melihat dan berkaca dengan apa yang menimpa Yusuf ‘alaihis salam, tentu saja diri kita akan lebih bersyukur, karena apa yang menimpanya tidak sebanding dengan musibah yang kita rasakan.

Nabi Yusuf juga mengajarkan bahwa rasa tenteram, lapang, dan rida (yang mana semuanya tersebut merupakan kunci kebahagiaan) tidak dapat diukur dengan ukuran materi. Karena perasaan tersebut merupakan karunia Allah yang Ia berikan kepada hamba-Nya yang ia inginkan. Bahkan, ketenteraman tersebut seringkali bisa dirasakan pada kondisi kerasnya dan sempitnya kehidupan. Allah Ta’ala berfirman mengenai wali-wali-Nya,

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ * اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ * لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Yunus: 62-64)

Jemaah yang dirahmati Allah Ta’ala, di setiap takdir dan keputusan Allah pasti ada hikmahnya. Pada kisah nabi Yusuf kita saksikan, jika saja ia tidak dilemparkan ke dalam sumur, maka Yusuf tidak akan pernah memasuki negeri Mesir. Jika nabi Yusuf tidak di penjara, maka ia tidak diberi amanah sebagai bendaharawan negeri Mesir. Rahmat Allah terkadang turun di sela-sela pedihnya cobaan. Sebuah karunia terkadang muncul karena kerasnya keadaan. Lihatlah apa yang dikatakan Yusuf ‘alaihis salam setelah Allah memberikan kedudukan kepadanya,

 وَقَالَ یَـٰۤأَبَتِ هَـٰذَا تَأۡوِیلُ رُءۡیَـٰیَ مِن قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّی حَقࣰّاۖ وَقَدۡ أَحۡسَنَ بِیۤ إِذۡ أَخۡرَجَنِی مِنَ ٱلسِّجۡنِ وَجَاۤءَ بِكُم مِّنَ ٱلۡبَدۡوِ مِنۢ بَعۡدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ بَیۡنِی وَبَیۡنَ إِخۡوَتِیۤۚ إِنَّ رَبِّی لَطِیفࣱ لِّمَا یَشَاۤءُۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَلِیمُ ٱلۡحَكِیمُ

 رَبِّ قَدۡ ءَاتَیۡتَنِی مِنَ ٱلۡمُلۡكِ وَعَلَّمۡتَنِی مِن تَأۡوِیلِ ٱلۡأَحَادِیثِۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِیِّۦ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ تَوَفَّنِی مُسۡلِمࣰا وَأَلۡحِقۡنِی بِٱلصَّـٰلِحِینَ

“Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 100-101)

Jemaah salat Jumat yang berbahagia,

Pelajaran kedua: Semua karunia datangnya dari Allah Ta’ala bukan dari yang lain.

Oleh sebab itu, wajib hukumnya untuk mensyukuri semua karunia dan kenikmatan tersebut. Allahlah satu-satunya yang juga akan menghilangkan keburukan dan cobaan dari manusia. Oleh karenanya, Yusuf ‘alaihis salam berdoa,

رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ * فَاسْتَجَابَ لَهٗ رَبُّهٗ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. Maka, Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf 33-34).

Di dalam kisah Yusuf ini Allah juga menegaskan bahwa diri-Nya sendiri yang akan memberikan jalan keluar dan solusi dari sebuah kesulitan. Allah Ta’ala berfirman menceritakan perihal nabi Yusuf ‘alaihis salam,

قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)

Jemaah salat jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala,

*Ketahuilah sesungguhnya pelajaran paling berharga dari kisah Yusuf adalah:* 

Kemampuan dan profesionalisme sangatlah dituntut di dalam agama Islam, serta keduanya sangatlah dibutuhkan di dalam kehidupan.

Saat Nabi Yusuf ‘alaihis salam mengetahui bahwa ia mampu dan memiliki kapasitas untuk sebuah kedudukan yang agung, ia pun memilih kedudukan tersebut,

قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ

“Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir). Karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).

Sungguh, itu adalah kedudukan yang dipenuhi dengan kepercayaan dan rasa tanggung jawab, bukan kedudukan yang ingin dicapai hanya karena ingin bermewah-mewahan dan haus pujian. Nabi Yusuf meminta hal tersebut dengan dasar baiknya agamanya serta rasa penuh tanggung jawabnya. Kalau ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih layak, tentu ia tidak akan memintanya.

Di dalam kisah tentang amanah yang dipikul nabi Yusuf ini juga mengandung pelajaran bagi mereka yang haus jabatan dan kedudukan. Sungguh jabatan dan kedudukan walaupun itu dipandang remeh oleh sebagian mata, sejatinya itu adalah amanah yang sangat berat, tidak semua punggung kuat dan tahan di dalam memikulnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR. Bukhari no. 7150 dan Muslim no. 142)

Semoga Allah Ta’ala menjaga para pemimpin kaum muslimin, menjadikan mereka pemimpin yang menunaikan kewajiban, amanah, dan tidak haus akan pujian. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita rakyat yang baik, taat kepada pemimpinnya serta taat dalam beribadah. Amiin ya Rabbal aalamiin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: www.muslim.or.id

Sumber:

https://muslim.or.id/75464-khotbah-jumat-3-pelajaran-penting-dari-kisah-nabi-yusuf.html

Hukum Mandi Jumat

10 Catatan Penting Terkait Mandi Jumat yang Jarang Diketahui

https://rumaysho.com/33946-10-catatan-penting-terkait-mandi-jumat-yang-jarang-diketahui.html

Hukum Mandi Jumat

Hukum mandi Jumat itu sunnah muakkad. Pembahasan dalilnya adalah sebagai berikut.

Dalil yang menyatakan hukum mandi Jumat itu sunnah adalah hadits berikut ini.

وَعَنْ سَمُرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ  وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالغُسْلُ أفْضَلُ ))

Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Barangsiapa yang berwudhu pada hari Jumat, maka itu baik. Dan barangsiapa yang mandi, maka itu lebih utama.” (HR. Abu Daud, no. 354; Tirmidzi, no. 497. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan. Al-Hafiz Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dalil lain menyatakan mandi Jumat itu wajib.

وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( غُسْلُ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ ))

Dari Abu Sa’di Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hukum mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap yang sudah berusia baligh.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 770 dan Muslim, no. 846). Makna hadits ini adalah mandi Jumat itu sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) karena kompromi dengan hadits sebelumnya. Mandi Jumat dihukumi sunnah, walau bisa dihukumi wajib jika memang jadi bentuk nadzar.

⏩ *10 Poin Penting Terkait Mandi Jumat*

Mandi Jumat adalah mandi yang sangat dianjurkan dari mandi-mandi sunnah lainnya.

Mandi Jumat ini juga sangat dianjurkan (sunnah muakkad) karena ada perselisihan para ulama mengenai wajibnya, walau dalam madzhab Syafii, hukum mandi Jumat adalah sunnah (bukan wajib).

Mandi Jumat menjadi wajib jika diniatkan untuk nadzar.

Meninggalkan mandi Jumat itu dihukumi makruh jika ditinggalkan tanpa uzur. Demikian pendapat al-ashah (pendapat yang lebih kuat walau ada perselisihan pendapat yang kuat di dalamnya).

Manakah yang dipilih, mandi Jumat ataukah lebih awal datang ke masjid (at-tabkiir) walau tidak mandi Jumat? Mandi Jumat tetap lebih baik diperhatikan. Alasannya, mandi Jumat ini masih ada pendapat ulama yang menghukumi wajib. Inilah yang disebut dengan muro’atul khilaf, memperhatikan masih adanya perbedaan pendapat ulama.

Jika ada yang berhadats setelah mandi Jumat, maka ia cukup berwudhu tanpa mengulangi mandi Jumat. Begitu pula jika ada yang junub setelah mandi Jumat, maka ia cukup mandi junub tanpa mengulangi mandi Jumat lagi.

Mandi Jumat bertujuan untuk (1) nazhafah (bersih-bersih diri) dan (2) ibadah. Jika tidak ada air sehingga tidak bisa untuk nazhafah, maka tujuan ibadah tetap dikerjakan yaitu dengan cara tayamum sebagai ganti dari mandi.

Siapa saja yang menghadiri shalat Jumat, walaupun ia tidak berkewajiban melaksanakan shalat Jumat, bahkan walau ia diharamkan menghadiri shalat Jumat, maka disunnahkan untuk mandi Jumat. Yang diharamkan menghadiri shalat Jumat, misalnya adalah wanita yang menghadiri shalat Jumat tanpa izin suaminya.

Waktu mandi Jumat adalah mulai dari terbit fajar shadiq (fajar Shubuh). Waktu mandi Jumat berakhir dengan salamnya imam pada shalat Jumat, menurut pendapat muktamad (pendapat resmi madzhab), walau ada yang menyatakan mandi Jumat berakhir ketika masuk dalam shalat Jumat. Waktu mandi Jumat yang afdal (paling utama) adalah ketika mau berangkat shalat Jumat. Karena maksud dari mandi Jumat adalah menghilangkan bau yang tidak enak ketika berkumpul dalam shalat Jumat.

Penjelasan di atas disarikan dari Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’, 1:352-353.

10. Wanita yang melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya pada hari Jumat, apakah dianjurkan mandi Jumat? Jawaban: Mandi Jumat disunnahkan untuk yang menghadiri shalat Jumat saja.

Baca juga:

Hukum Mandi Jumat bagi Wanita

Wanita Mandi Jumat Ketika Menghadiri Shalat Jumat

Penjelasan poin 10 bisa dilihat di Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii, hlm. 45.

Baca juga: Boleh Sekali Mandi untuk Mandi Jumat dan Mandi Junub Sekaligus

Referensi:

Al-Imtaa’ bi Syarh Matan Abi Syuja’ fii Al-Fiqh Asy-Syafii. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Hisyam Al-Kaamil Haamid. Penerbit Dar Al-Manar.

Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Syarh Al-‘Allamah Ibnu Qasim Al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Cetakan kedua, Tahun 1441 H. Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Bajuri. Penerbit Dar Al-Minhaj.

Disusun pada malam 10 Dzulqa’dah 1443 H/ 9 Juni 2022

Di Pondok Pesantren Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal 

Artikel Rumaysho.Com

Sumber https://rumaysho.com/33946-10-catatan-penting-terkait-mandi-jumat-yang-jarang-diketahui.html

Mengambil hikmah dari kisah meninggalnya ibrahim putra rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

 🔅🍁🔅



Wafatnya anak adalah kesedihan yang mendalam. Saya sering safar ke luar daerah, hanya beberapa hari sudah sangat rindu dengan anak-anak, tidak terbayang kesedihan dan kerinduan berpisah selama-lamanya, tetapi kita punya teladan terbaik yang menghibur kita yaitu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ujian beliau sangat berat, di mana SEMUA anak-anak beliau meninggal di masa beliau masih hidup KECUALI Fatimah.

Kami buat tulisan gambaran kesedihan beliau yang baru sudah lama tidak diberikan anak laki-laki, lalu Allah berikan sebentar saja, kemudian Allah wafatkan. Yaitu putra beliau Ibrahim:

1) Sebagai orang tua, tentu akan sangat sedih dengan meninggalnya anak kita tercinta. Ini sebagaimana dalam Al-Quran [5]

2) Ibrahim adalah satu-satunya anak beliau yang lahir setelah diutus menjadi Nabi, yang paling ditunggu-tunggu dari sekian banyak istri beliau

3) Ibrahim adalah satu-satu anak laki-laki yang tersisa, tentunya psikologi manusia sangat berharap pada anak laki-laki yang akan meneruskan perjuangannya

4) Beliau tentu sangat sayang pada Ibrahim dan ini dipersaksikan oleh sahabat sebagaimana dalam hadits [6]

5) Usia meninggalnya Ibrahim adalah saat usia anak sedang lucu dan imut. Sudah bisa berjalan walau belum seimbang, sudah bisa memanggil “ayah atau ibu” walaupun belepotan. Tentu sangat berbekas dan membuat sangat rindu

Hikmah dari kisah ini, yaitu agar kita bersabar jika ditinggal meninggal oleh orang tercinta.Teladani Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, ketika Ibrahim meninggal beliau bersabar, tetap menangis dan hati bersedih akan tetapi beliau tidak melakukan kecuali apa yang Allah ridha

Beliau berkata ketika Ibrahim meninggal,

 ﺇﻥَّ ﺍﻟﻌَﻴْﻦَ ﺗَﺪْﻣَﻊُ ﻭﺍﻟﻘَﻠﺐ ﻳَﺤْﺰﻥُ ، ﻭَﻻَ ﻧَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻳُﺮْﺿِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ، ﻭَﺇﻧَّﺎ ﻟِﻔِﺮَﺍﻗِﻚَ ﻳَﺎ ﺇﺑﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻟَﻤَﺤﺰُﻭﻧُﻮﻥَ 

“Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhai oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”. [7]

Semoga kita bisa selalu sabar menghadapi berbagai ujian dan musibah dan berharap pahala yang tidak terbatas serta kedudukan tinggi.

BACA SELENGKAPNYA:

https://muslimafiyah.com/mengambil-hikmah-dari-kisah-meninggalnya-ibrahim-putra-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

Wednesday, June 8, 2022

10 CARA MENGETAHUI WANITA BERCADAR KARENA ILMU DAN TANPA ILMU

 Bismillahirrahmanirrahim..


Berikut ini cara mengetahui bercadar dengan Ilmu dan Tanpa ilmu : 

1. Mengenakan Kaus Kaki

Wanita yang bercadar karena tahu ilmunya dipastikan selalu mengenakan kaus kaki dan celana dalaman. Itu untuk mencegah aurat tersingkap saat beraktivitas. Mereka juga dipastikan mengenakan gamis atau rok. Bukan celana, apalagi celana jin. Sementara yang tidak berilmu, biasanya tidak mengenakan kaus kaki dan legging. Saat pakaiannya tertiup angin, auratnya kelihatan.

2. Dilakukan Bertahap

Pada kebanyakan wanita, penggunaan cadar dilakukan secara bertahap sambil belajar dan memperdalam ilmu agama. Biasanya dimulai dengan semacam masker. Lama kelamaan, setelah siap mental, semakin meningkat pula jenis cadar yang digunakan. Ada yang sampai mengenakan burka, mata pun tertutup kain tipis. Tidak semua orang yang memperdalam ilmu agama berani mengenakan cadar. Sementara yang ikut-ikutan tiba-tiba saja mengenakan cadar tanpa belajar lebih dahulu.

3. Hanya Menutup Wajah bagi Nonmahram

Wanita yang mengenakan cadar sebenarnya tidak tertutup sama sekali dengan sekelilingnya. Cadar hanya digunakan untuk menjaga diri dari laki-laki nonmahram. Dengan sesama perempuan, mereka berinteraksi tanpa mengenakan cadar, tentu saja di ruangan tertutup yang tidak terdapat laki-laki asing. Jika ada laki-laki, wajahnya kembali ditutup.

4. Tidak Berduaan dengan Laki-laki Asing

Ini juga jadi salah satu pembeda. Mereka yang mengenakan cadar karena paham ilmunya tidak akan berduaan dengan laki-laki nonmahram. Apalagi dalam Islam, berkhalwat atau berduaan antara laki-laki dan wanita nonmahram, terlarang. Komunikasi pun terbatas pada yang dibolehkan, misalnya untuk urusan jual beli dan hal lain yang dibolehkan syariat.

Misalnya, wanita bercadar boleh saja membeli barang dan berbicara dengan pedagang atau pemilik toko. Sedangkan, wanita yang bercadar karena ikut-ikutan mungkin saja masih bersenda gurau dengan laki-laki nonmahram/ajnabi.

5. Tidak Berbicara di Depan Umum

Wanita bercadar biasanya tidak pernah tampil di depan umum yang pesertanya terdapat laki-laki asing, apalagi sampai berbicara atau berpidato atau berceramah. Mereka hanya berbicara jika audiensnya semua perempuan dan anak-anak. Itu karena suara perempuan oleh sebagian ulama menyebutnya sebagai aurat. Banyak laki-laki yang syahwat mendengar suara merdu perempuan.

6. Tidak Menyanyi atau Mengeraskan Suara saat Membaca Alquran

Sangat aneh jika ada wanita bercadar yang menjadi penyanyi. Apalagi jika sampai diiringi musik. Sebagian ulama menyatakan bahwa musik haram dengan mengacu pada sejumlah dalil. Terlepas dari halal atau haramnya musik, wanita bercadar tidak akan memperdengarkan suara indahnya kepada laki-laki asing.

Kalaupun mereka diminta membaca Alquran dalam sebuah acara, maka itu hanya dilakukan jika seluruh pesertanya perempuan dan anak-anak. Itu pun suaranya dipastikan hanya terdengar dalam ruangan, tidak sampai ke luar masjid atau luar gedung sehingga terdengar oleh laki-laki nonmahram.

7. Hanya Mau Dibonceng oleh Mahram

Hampir sulit menemukan wanita bercadar membonceng pada ojek motor, baik online maupun yang konvensional. Kalaupun menggunakan ojek, maka pengemudinya dipastikan perempuan juga. Mereka hanya mau dibonceng oleh mahram, seperti suami, saudara, ayah, dan yang disebutkan dalam Alquran dan Hadits. Mereka tidak akan membonceng kepada ipar laki-laki karena termasuk nonmahram.

8. Tidak Bertamu atau Menerima Tamu Laki-laki

Sebagai bagian dari menjaga diri, wanita bercadar yang belajar ilmunya, dipastikan tidak akan bertamu ke rumah yang hanya ada laki-laki nonmahram. Begitu pula sebaliknya, tidak akan menerima tamu laki-laki jika suaminya atau mahramnya sedang tidak berada dalam rumah.

Jika tamu wanita datang dengan mahramnya, wanita bercadar juga bersama mahramnya, biasanya pertemuan berlangsung di tempat terpisah. Wanita berbincang sesama wanita dan laki-laki berbincang dengan laki-laki. Mereka tidak bercampur baur mengobrol dalam ruangan yang sama.

9. Tidak Bersalaman dengan Laki-laki Asing

Wanita bercadar tidak akan bersalaman dengan laki-laki asing. Sebenarnya ini tidak hanya dilakukan wanita bercadar. Salah satu dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa tertusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, lebih baik daripada menyentuh wanita.

10. Tidak Mengenakan Pakaian Mencolok dan Tidak Bergaya di Medsos

Salah satu tanda yang membedakan wanita yang bercadar karena paham ilmu dan yang sekadar ikut-ikutan adalah warna pakaiannya. Wanita yang mengenakan cadar ideologis tidak memilih warna cerah, semisal pink, oranye, dan warna menarik lainnya. Umumnya mengenakan warna hitam, biru tua, hijau tua, dan warna lain yang tidak menonjol.

Wanita yang memahami subtansi cadar juga tidak akan mengunggah foto atau vidio yang sementara bergaya atau foto selfie ke media sosial. Apalagi berfoto bareng dengan laki-laki yang bukan mahram, walaupun merupakan tokoh idola.

Alahu 'Alam


Meminta Kepada Wali Allah dengan Alasan Alasan Derajat Mereka Lebih Tinggi ???

 


Semoga Bermanfaat, Silahkan Share jika dirasa bermanfaat dan semoga mendapatkan pahala jariyahnya.


Masukan dan Saran Serta Kritik Membangun sangat diharapkan ke email : tujuanmucom@gmail.com

Simak Juga Artikel Kami Lainnya di Channel Youtube :

https://www.youtube.com/c/TopChannelOne

Play List Kajian Sunnah di Youtube :

https://www.youtube.com/playlist?list=PLIJQYJ-Cz_XkX6L_nhAGqOAX9FX9MDKQQ

Twitter     :  tujuanmucom

Tag / Label :

Kajian Islam, Tauhid, Kajian Islam Terbaru,Update Kajian,Update sunnah, info Islam,Info Kajian Islam, Manhaj Salaf, Tauhid,Al Qur’an, Allah di atas Arsy',Dakwah salaf

Supported By : www.tujuanmu.com

Tafsir Surat At Thaha