Wednesday, December 29, 2021

Wali Tidak Berbusana

Semoga Bermanfaat

Label :

Update kajian, Kajian Islam, Info Islam, Update Islam,Ilmu Islam, Update Hadist,Update Sunnah,Sunnah,konsultasi syariah,kajian.net

Silahkan share Untuk Memperoleh Pahala Jariyah, Insya Allaah,media sunnah,konsultasi syariah,kajian.net

Supoorted by :

https://griyakajiansunnah.blogspot.com

WWW.KAJIAN.NET

Apakah Surat Al-Mulk Adalah Penjaga dari Siksa Kubur ?

https://t.me/menebar_cahayasunnah

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Pertanyaan :

Apakah shahih hadits yang menyatakan, bahwa dengan hapal Surat Al-Mulk dan dibaca berulang-ulang, dapat menjaganya dari siksa kubur, dan di Akhirat nanti dapat menjadi salah satu syafa'at?

Jawaban :

Bismillaah wash-shalaatu was salaamu ‘ala Rasuulillaah, 'ammaa ba’du,

Pertama :

Memang banyak fadhilah dan keutamaan dari Surat al-Mulk, di antaranya yang shahih (bisa dijadikan pegangan) adalah :

DariAbu Hurairah رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ, Nabi ﷺbersabda :

❝Ada surat dari Alquran yang terdiri dari 30 ayat. Surat tersebut dapat memberikan syafaat bagi ‘temannya’ (yakni orang yang banyak membacanya), sehingga orang tersebut diampuni dosanya, yaitu: Surat Tabaarokalladzi bi yadihil mulk.❞

[HR. Abu Dawud dengan redaksinya, diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, dan adz-Dzahabi, sedangkan at-Tirmidzy dan Albani menghasankannya]

'Anas bin Malik رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ, mengatakan, Rasulullah ﷺ bersabda :

❝Ada surat dari Al-Qur'an. Ia hanya terdiri dari 30 ayat. Surat tersebut dapat membela ‘temannya’. sehingga memasukkannya ke Surga, yaitu: Surat Tabarok.❞

[HR. Thobaroni dalam Mu’jamul Ausath, dan dihasankan oleh Albani dalam Sahihul Jami’]_

'Abdullah bin Mas’ud رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ, mengatakan :

❝Barang siapa membaca Surat Tabaarokalladzii bi yadihil mulk setiap malam, maka Allah ﷻ menghindarkannya dari 'adzab kubur. Dan dahulu kami (para shahabat) di saat Rasulullah ﷺ masih hidup, menamainya “al-Mani’ah.❞(penghindar/penghalang)._

❝Sungguh surat tersebut ada dalam Kitabullah. Barang siapa membacanya dalam suatu malam, maka ia telah banyak berbuat kebaikan.❞

[HR. Nasa’i dengan redaksinya, diriwayatkan pula oleh al-Hakim dan ia mengatakan: sanadnya Shahih, dan dihasankan oleh Albani]

Dari Jabir رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ, sesungguhnya Nabi ﷺ tidak pernah tidur malam, sehingga ia membaca Surat Alif lam mim tanzil (biasa disebut Surat as-Sajdah) dan Surat Tabaarokalladzii bi yadihil mulk (biasa disebut Surat al-Mulk).❞

[HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan yang lainnya, dihasankan oleh Albani]

❝Dari Waatsilah ibnul Asqo’, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda :

Aku telah dikaruniai Assab’u yang sebanding dengan Kitab Taurat. Aku juga diberi Alma’in yang sebanding dengan Kitab Zabur. Aku juga diberi Almatsani yang sebanding dengan Kitab Injil. Dan aku dikaruniai kelebihan dengan Almufash-shol.❞

[HR. Ahmad, dan dihasankan oleh Albani dan Al-Arnauth]_

Kedua :

Fadhilah Surat Al Mulk bisa diraih oleh mereka yang banyak membacanya, terutama di waktu malam menjelang tidur, sebagaimana diterangkan dalam hadits nomor 3 dan 4.

Jadi tidak tepat kalau dikatakan, bahwa keutamaan tersebut hanya khusus bagi mereka yang menghafalnya saja.

Ketiga :

Waktu untuk membaca Surat Al Mulk ini bisa kapan saja. Akan tetapi Rasulullah ﷺ biasa membacanya saat menjelang tidur malam.

Keempat :

Melihat keterangan hadits-hadits diatas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa memerbanyak membaca Surat Al Mulk dapat menghindarkan seseorang dari siksa kubur dan siksa Neraka.

Kelima :

Perlu kami ingatkan di sini, bahwa banyak sekali hadits tentang keutamaan Surat Al-Qur'an yang dhaif (lemah), bahkan maudhu (palsu).

Oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati dalam menerima keterangan tentang keutamaan Surat Al-Qur'an, agar kita tidak terjatuh dalam amalan bid'ah dan kepercayaan yang tak berdasar.

Hendaklah kita tidak mengamalkan hadits, kecuali telah jelas kesahihannya.

Wallaahu a’lam bish-showab.

Sekian jawaban dari kami.

Semoga bermanfa'at bagi diri ana sendiri, penanya, dan para pembaca semuanya.Aamiin

Wassalam.

Dijawab oleh : Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny Lc, MA hafizhahullah(Mutiara Risalah Islam)

Telinga Berdenging, Panggilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

 >> Seri Aqidah dan Tauhid <<

https://t.me/menebar_cahayasunnah

*Amalan dan Doa Ketika Telinga Berdenging*

Pertanyaan:

Assalamualaikum..

Ustadz ana mau tanya berkenaan tulisan berikut..

“TELINGA BERDENGING” Adalah Panggilan Baginda Nabi MUHAMMAD Sholallohu Alaihi Wasallam

Banyak orang bertanya kenapa terkadang telinga bersuara “Nging” ? Apa sebab musababnya, karena musababnya ada yang mengatakan dengan tidak berpedoman, bertahayul dan sangkaan jelek terhadap hal itu?

Sesungguhnya suara “NGING” dalam telinga, itu ialah Sayyidina Rosululloh Saw sedang menyebut orang yang telinganya bersuara “NGING” dalam perkumpulan yang tertinggi (malail a’laa) dan supaya ia ingat pada sayyidina rosululloh Saw dan membaca sholawat.-

Hal ini berdasarkan keterangan dari kitab ( AZIZI ‘ALA JAMI’USH SHAGHIR)

“Jika telinga salah seorang kalian berdengung(nging) maka hendaklah ia mengingat aku (Sayyidina Rosululloh Saw) dan membaca sholawat kepadaku.Serta mengucapkan “DZAKARALLOHU MAN DZAKARONII BIKHOIR”; (artinya, Alloh ta’ala akan mengingat yang mengingatku dengan kebaikan)”.

Imam Nawawi berkata : Sesungguhnya telinga itu berdengung Hanya ketika datang berita baik ke Ruh.Bahwa sayyidina Rosululloh Saw telah menyebutkan orang ( pemilik telinga yang berdengung”Nging”) tersebut dengan kebaikan di al mala’al a’la (majlis tertinggi) di alam ruh.

[ Kitab AZIZI ‘ALAL JAMIUSH SHAGIR ]

Via Tanya Ustadz for Android

Dari: Mandala Alim

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Hadis yang anda sebutkan, redaksinya,

إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ ، وَلْيَقُلْ : ذَكَرَ اللَّهُ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ

”Apabila telinga kalian berdenging, hendaklah dia mengingatku, dan membaca shalawat untukku, dan hendaknya dia mengucapkan, ’Semoga Allah mengingat orang yang mengingatkan dengan mendoakan kebaikan.”

Ada beberapa catatan tentang riwayat di atas,

👉Pertama, tentang status keabsahan hadis

Hadis ini disebutkan oleh al-Azizi dalam as-Siraj al-Munir atau yang dikenal dengan Azizi ‘Ala Jami’ush Shaghir, al-Kharaithi dalam Makarim al-Akkhlaq, al-Uqailli dalam al-Maudhu’at, dari jalur Muhammad bin Ubaidillah dari Ma’mar, dari bapaknya.

Al-Bukhari mengatakan,

معمر وأبوه كلاهما منكر الحديث

”Ma’mar dan bapaknya, keduanya adalah munkarul hadis.” (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/242).

Sementara ad-Daruquthni menyebut Muhammad bin Ubaidillah dengan ‘Matruk’ (perawi yang tidak diindahkan hadisnya).

Bahkan al-Uqaili mengomentari hadis ini dengan,

ليس له أصل، محمد بن عبيد الله بن أبي رافع قال البخاري: منكر الحديث

“Hadis yang tidak ada asalnya (tidak ada di kitab hadis). Sementara Muhammad bin Ubaidillah dinyatakan oleh Bukhari sebagai Munkarul hadis.” (ad-Dhu’afa’ 390, dinukil dari Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah, 6/138).

Kesimpulannya, hadis ini sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan, karena itu, tidak perlu dihiraukan, apalagi dijadikan acuan.

👉Kedua, dalam hadis di atas, sama sekali tidak ada keterangan bahwa telinga berdenging adalah tanda panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis di atas hanya berisi anjuran untuk membaca shalawat ketika telinga berdenging. Karena itu, tambahan bahwa denging telinga adalah panggilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas tambahan dusta, mengada-ada, terlalu berlebihan dan memalukan.

Terlebih, jika hadis tersebut adalah hadis palsu. Menyebarkan pernyataan semacam ini tidak ubahnya menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَدّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يُــرَي أَنّه كَذِبٌ فَهو أَحَدُ الكَاذِبِين

“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadis dariku, sementara dia menyangka bahwasanya hadis tersebut dusta maka dia termasuk diantara salah satu pembohong.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya, 1/7).

Imam Ibn Hibban dalam Al-Majruhin (1/9) mengatakan: “Setiap orang yang ragu terhadap hadis yang dia riwayatkan, apakah hadis tersebut shahih ataukah dhaif, tercakup dalam ancaman hadis ini.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hlm. 160).

Mari kita renungkan, jika orang yang menyampaikan sebuah hadis, sementara dia ragu terhadap status hadis tersebut, shahih ataukah dhaif, dan dia tetap sampaikan hadis itu tanpa memberikan keterangan statusnya maka orang semacam ini termasuk dalam ancaman, disebutb sebagai pendusta.

Dalam kasus ini, orang membawakan suatu hadis dan dia yakin hadis tersebut adalah hadis dhaif, namun di sisi lain dia masih menganggap bahwa hadis dhaif tersebut adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia sebarkan ke masyarakat, manakah diantara dua kasus di atas yang lebih layak untuk disebut pendusta?

👉Ketiga, kita disyariatkan untuk banyak membaca shalawat. Namun bukan berarti kita boleh memotivasi masyarakat untuk bershalawat dengan membuat kedustaan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru merupakan bukti bahwa kita tidak menghormati beliau dan melanggar kehormatan beliau. Kita bisa bayangkan ketika ada orang yang memalsu tanda tangan kita untuk mendapatkan keuntungan. Tentu kita akan marah dan menganggap perbuatan ini sebagai tindak kriminal.

Ini baru dalam masalah dunia. Sementara hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara masalah akhirat, yang itu urusannya jauh lebih besar. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman neraka untuk setiap umatnya yang berdusta atas nama beliau. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَمَّدَ عَلَيَّ كَذِبًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

”Siapa yang secara sengaja berdusta atas namaku, hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari 108 & Muslim 2)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda,

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Siapa yang menyampaikan satu hadis atas namaku, yang belum pernah aku sampaikan, hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari 109).

👉 Keempat, ada banyak kesempatan untuk bershalawat, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Dan kita sangat yakin, belum semuanya kita amalkan. Karena itu, bukan sikap mukmin yang baik, ketika dia lancang mengikuti hadis palsu, sementara meninggalkan tuntunan yang jelas-jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang jelas sesuai sunah belum mampu kita kerjakan semuanya, maka jangan sampai kita merambah kepada ajaran yang tidak ada dalilnya.

Keterangan tentang tempat dan waktu anjuran untuk bershalawat, telah dijelaskan di: Waktu dan Tempat untuk Bershalawat

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Dinukil dari konsultasisyariah.com

_Silahkan di share / repost , semoga anda mendapat bagian dari pahala menunjukkan kebaikan آمِينَ_

Tafsir surat At taghobun ayat 3-5