Wednesday, January 19, 2022

KETERASINGAN YANG INDAH


بسم الله الرحمن الرحيم

Rasulullah ﷺ bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء

“Islam bermula dalam keadaan terasing, dan akan kembali terasing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah al-ghuroba’ (orang-orang yang terasing karena mengamalkan Islam).” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

السبب في كون القرن الأول خير القرون انهم كانوا غرباء في ايمانهم لكثرة الكفار حينئذ وصبرهم على اذاهم وتمسكهم بدينهم قال فكذلك اواخرهم إذا اقاموا الدين وتمسكوا به وصبروا على الطاعة حين ظهور المعاصي والفتن كانوا أيضا عند ذلك غرباء وزكت أعمالهم في ذلك الزمان كما زكت أعمال أولئك ويشهد له ما رواه مسلم عن أبي هريرة رفعه بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء

“Sebab yang menjadikan generasi pertama (para sahabat) sebagai generasi terbaik adalah karena mereka ghuroba’ (orang-orang yang asing) dalam keimanan mereka disebabkan:

- Banyaknya orang-orang kafir ketika itu.

- Kesabaran mereka atas gangguan orang-orang kafir.

- Berpegang teguhnya mereka dengan agama.

Demikianlah generasi akhir mereka (umat Islam yang meneladani para sahabat di akhir zaman):

- Apabila mereka menegakkan agama.

- Berpegang teguh dengannya.

- Bersabar dalam ketaatan kepada Allah ketika kemaksiatan dan berbagai macam cobaan semakin merajalela.

Maka mereka juga termasuk ghuroba’ dan amalan mereka berlipat ganda di masa tersebut sebagaimana amalan generasi pertama juga berlipat ganda." [Fathul Bari, 7/6-8]

Al-‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,

الغرباء هم أهل الاستقامة، وان الجنة والسعادة للغرباء الذين يصلحون عند فساد الناس

“Al-Guroba', orang-orang yang terasing adalah mereka yang istiqomah (teguh di atas kebenaran), sesungguhnya surga dan kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing, yaitu yang membuat perbaikan ketika manusia banyak yang rusak.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 1/14]

JALAN MENJADI AL-GHUROBA'

1. Mempelajari Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf.

2. Berusaha mengamalkannya dengan baik.

3. Mengajarkannya kepada orang lain.

4. Bersabar di atasnya sampai akhir hayat.

5. Senantiasa berdoa dan tawakkal kepada Allah 'azza wa jalla agar istiqomah.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: https://sofyanruray.info/keterasingan-yang-indah/

Dapatkan Buku-buku Akidah dan Manhaj Al-Ghuroba': https://toko.sofyanruray.info/category/buku/akidah-dan-tauhid/

Fast Order: wa.me/628118247111

*GABUNG TELEGRAM*

t.me/taawundakwah

t.me/sofyanruray

t.me/kajian_assunnah

t.me/videokitabtauhid

t.me/kaidahtauhid

t.me/akhlak_muslim


*WA GROUP KAJIAN ISLAM*

Ketik: Daftar

Kirim ke Salah Satu Admin:

wa.me/628111833375

wa.me/628111377787

wa.me/628119193411

*Website dan Medsos:*

– sofyanruray.info

– taawundakwah.com

– twitter.com/sofyanruray

– facebook.com/sofyanruray.info

– instagram.com/sofyanruray.info

– youtube.com/c/kajiansofyanruray

#Yuk_share. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.” [HR. Muslim]

Nukhbatul Fikr 04

Semoga Bermanfaat, 

Silahkan Berkomentar, Like, Share dan Subscribe
Baca Juga Kajian Lainnya di
https://griyakajiansunnah.blogspot.com
https://gotauhid.blogspot.com 
kajian.net

Label :
#Update kajian
#Kajian Islam
#Info Islam
#Update Islam
#Ilmu Islam
#Update Hadist
#Update Sunnah
#Sunnah
#konsultasi syariah,kajian.net

Tag :
Update Kajian Sunnah, Kajian Islam, Kajian Islam Terbaru,Update Kajian,Update sunnah, info Islam,Info Kajian Islam, News Islam, Berita Islam, Kabar Islam, Dunia Islam, Belajar Islam, Manhaj Salaf, Tauhid, go Tauhid,Griya Kajian Sunnah

Tradisi Wajib Memberi Amplop Kondangan atau Walimah Dalam Islam

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Kami ingin bertanya, bulan-bulan ini akan banyak sumbangan-sumbangan dalam acara kondangan, nikah, khitan, walimah, dan semisalnya.

Dan menyumbangnya harus ada minimalnya, misal 25 atau 50 ribu rupiah. Tradisi di tempat saya seperti itu.

Saya pernah lihat ada yang rela berhutang uang untuk hal ini. Bagaimana hukumnya menyumbang amplop tapi dengan uang dari berutang?

Kalau kita menyumbang tidak banyak tapi ikhlas, atau menyumbang tapi kita tidak ikhlas bahkan sampai pinjam uang supaya bisa menyumbang.

Kira-kira bagaimana yang lebih baik?

Jawaban :

Oleh Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Ayyatuhal Akhawat baarakallah fiikunna.

Sebaik- baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia pada asalnya cinta harta, maka amalan sedekah menjadi amalan mulia melatih diri dan jiwa mengeluarkan harta di jalan yang diridhaiNya.

Allah Azza wa Jalla juga telah menciptakan manusia dengan tabia’atnya yang sangat mencintai harta. Allah Ta’ala berfirman :

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.”

(QS. al-Fajr : 20)

Maka syariat datang untuk mengarahkan manusia untuk berinfaq di jalan Allah,

وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ

“Dan infakkanlah/belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah.”

(QS. Al-Baqarah: 195).

Ketika seseorang diundang dalam sebuah pesta walimah, acara tasyakkuran, dan semisalnya, maka hukum asal kita tidak membawa apa-apa, alias datang saja (dikarenakan itu adalah undangan menghadiri acara, dan bukan undangan memaksa membawa uang), maka membawa sumbangan berupa uang dalam amplop bukanlah suatu kewajiban.

Beda halnya kalau ingin memberikan hadiah (biasanya kado), itu adalah hal yang dianjurkan dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda;

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai”

(Hadits hasan. HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594).

Amalan suka rela inilah yang paling utama walaupun nilainya hanya sedikit, sehingga tidak perlu berhutang,

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai para wanita muslimah, tetaplah memberi hadiah pada tetangga walau hanya kaki kambing yang diberi.”

(HR. Bukhari, no. 2566 dan Muslim, no. 1030).

Ini pertanda bahwa tetaplah perhatikan tetangga atau masyarakat yang mengundang kita di dalam berbagi hadiah dengan sesuatu yang mudah bagi kita, dan tidak perlu membebani diri. Memberi sedikit tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Persoalan tuan rumah yang mengadakan pesta tidak suka dengan hadiah yang sedikit, itu adalah persoalan lain.

Disusun oleh:

Ustadz Fadly Gugul S.Ag