Thursday, December 23, 2021

Qadha Puasa Asyura karena Haid

Semoga Bermanfaat

Label :

Update kajian Islam, Kajian Sunnah, Sunnah, Info Islam, Info Islam Terbaru, Update Kajian Sunnah,Kajian Islam, Ahlus Sunnah, Tips Islam, Cahaya Islam, salaf, ghurroba, Ittiba,Fiqih Asmaul Husna Al Wahab

Silahkan Share Untuk Memperoleh Pahala Jariyah, Insya Allah

Didukung Oleh :

https://griyakajiansunnah.blogspot.com

https://btqs.blogspot.com ( Back to Qur’an & Sunnah )

www.KonsultasiSyariah.com

www.kajian.net


Bagimu Agamamu Bagiku Agamaku

Pertanyaan:

Bolehkan mengucapkan selamat hari raya agama lain?

Jawaban:

Hari Raya Itu Perkara Aqidah

Hari raya itu masuk ranah aqidah? Betul, hari raya itu masuk permasalahan Iman dan Aqidah, karena selalu berulang di setiap tahun, ada perayaan dan ritual khusus di dalamnya serta ucapan keselamatan atas hari tersebut.

Ucapan selamat hari raya ini,  …, dst. berkonsekuensi ikut merayakan walaupun hanya sekadar  ucapan pendek, ucapan selamat belaka. Maka dalam kasus-kasus semacam ini berlaku kaidah dalam agama kita yang mulia; bagimu Agamamu dan bagiku Agamaku.

Toleransi Haqiqi

Inilah toleransi haqiqi di mana seorang muslim sejati berlepas diri dari amalan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak pernah bersujud kepada Allah Ta’ala lagi tidak beriman kepadaNya.

Seorang hamba yang masih memiliki keimanan di hatinya seharusnya peka dan sadar bahwa jenis ibadah apa pun yang ia lakukan, tentu saja harus mengikuti apa yang diajarkan oleh sesembahanNya. 

Inilah konsekuensi dari kalimat Ikhlas “Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.” Maksud kalimat yang agung ini adalah “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah Ta’ala, dan jalan untuk melakukan ibadah tersebut adalah dengan mengikuti ajaran Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Orang-orang musyrik melakukan ibadah kepada selain Allah Yang Maha Esa, padahal tidak diizinkan. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada mereka,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kafirun, 6)

Maksud ayat ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus : 41). Dalam ayat yang lain: “Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.” (QS. Asy Syura: 15).

Pertanyaannya sekarang; adakah yang mau belajar toleransi yang benar dari ajaran Islam?

Semoga mencerahkan, Dan Allah Yang Pemurah lah yang memberikan taufiq itu.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Disusun oleh: Ustadz Fadly Gugul حفظه الله 

(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

https://bimbinganislam.com/bagimu-agamamu-bagiku-agamaku/

Wednesday, December 22, 2021

Istri Setia, Selalu Siap Sedia || Khadijah


Apa yang paling diharapkan dari seorang istri ketika tantangan dan cobaan berat menimpa suaminya? Ya, kesetiaan.

Suatu kali terjadi peristiwa besar yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat beliau menyendiri di gua Hira’, merenungi kebesaran Penciptanya dan meninggalkan hiruk pikuk kejahiliyahan kaumnya, datanglah malaikat Jibril membawa wahyu-Nya yang pertama.

Berkali-kali malaikat Jibril mendekapnya dengan kuat seraya memerintahkan, “Bacalah!”. Berulang-ulang itu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Saya tidak dapat membaca”.

Kemudian turunlah surat Al-‘Alaq ayat 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ * الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ * عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Setelah kejadian tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke rumahnya dengan badan gemetar. Ketakutannya masih belum hilang dengan apa yang baru saja dia alami.

Beliau segera masuk menemui istrinya, Khadijah, sambil mengatakan, “Selimuti aku! Selimuti aku!”, Khadijah pun menyelimutinya tanpa berucap sepatah kata.

Tatkala perasaan takut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkurang, beliau menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di gua Hira’ kepada istrinya yang setia.

“Aku khawatir jika terjadi apa-apa pada diriku”, ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Tenanglah! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu. Engkau adalah orang yang suka menyambung silaturahim, berkata jujur, dan membantu orang yang lemah, serta suka menolong pada jalan kebaikan”, hibur Khadijah kepada suaminya.

Kemudian Khadijah mengajak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke rumah pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang tua renta dan buta yang tekun mempelajari isi kandungan kitab Taurat dan Injil.

Khadijah menyampaikan apa yang terjadi. Mendengar hal tersebut, Waraqah tampak gembira.

“Itu adalah Jibril yang dahulu Allah turunkan kepada Nabi Musa. Engkaulah Nabi terakhir bagi umat ini”, kata Waraqah berseri-seri.

Demikianlah, Khadijah merupakan istri teladan, penolong utama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia membela suaminya dengan jiwa dan hartanya. Dia pula yang pertama kali beriman dan meyambut dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  serta ikut menanggung berat dan pedihnya tantangan dakwah yang diserukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena itu, ketika Khadijah wafat, kenangan indah bersamanya selalu terbayang di benak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Dia beriman kepadaku saat orang-orang ingkar kepadaku. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dia menyerahkan hartanya untukku tatkala orang-orang menahan hartanya untukku. Allah memberikanku keturunan melalui dirinya, sementara yang lain tidak”.

Begitulah, Khadijah mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa awal perjuangannya yang sangat berat hingga ajal menjemputnya. Demikianlah, istri yang setia senantiasa siap sedia berkhidmat kepada suaminya.

Oleh karena itu, semasa Khadijah hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak menikah dengan wanita selainnya.

Semoga Allah meridhainya.

Baca juga: Dimanakah Istri Idaman Itu ?

Referensi: Kisah Wanita Teladan, karya Abdullah Haidir, cetakan Kantor Dakwah Sulay, cetakan ketiga, tahun 1433 H, Riyadh, hal. 7-9

Penulis: Ummu Fathimah

Artikel Muslimah.or.id